Dijaman sekarang, yang katanya era reformasi, ternyata masih banyak orang yang belum tau atau mungkin tidak mau tahu tentang proses administrasi perpanjangan STNK. Sebagian mungkin tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya sendiri sedangkan yang lain mungkin masih alergi dengan aparat yang seringkali malah bikin prosesnya jadi berbelik, bukan malah jadi mudah.
Ternyata, kalo diperhatiin, proses pengurusannya sekarang relatif lebih simpel dibandingkan sebelumnya. Hal itu yang aku rasain waktu mengurus perpanjangan motor tercinta pada Sabtu, 9 Februari 2008 kemarin, di Samsat Ciputat.
Begini nih prosesnya:
1. Datang ke loket formulir untuk mengambil formulir berwarna biru. Formulirnya gratis lho. Meskipun data-data pada formulir itu masih kosong tapi kita tidak perlu menuliskan apa-apa di lembaran itu. Setelah dapat formulirnya, beli map yang dijual disitu (katanya sih map khusus untuk ngurus STNK, yah whateverlah… oh ya harga map nya sekitar Rp2.000 per buahnya).
2. Lampirkan formulir biru tersebut bersama dengan KTP asli + fotokopi, STNK asli + fotokopi, dan BPKB asli + fotokopi. (Biar aman siapin aja fotokopi nya masing-masing 2 lembar) ke loket “pendaftaran”. Tunggu beberapa saat sampai petugas di bagian pendaftaran memanggil nama kita untuk ngembaliin BPKB yang aslinya.
3. Setelah itu, kita tinggal tunggu di loket “pembayaran dan penyerahan”. Di loket itu kita bayar pajak sesuai yang tertera di lembaran bukti pajak. Setelah bayar, tinggal tunggu STNK nya di loket “pengambilan STNK”.
4. Beres deh urusannya. Setelah terima STNK yang udah di perbarui, tinggal di simpan di dompet atau di tempat lain.
Untuk waktu pengurusan sih relatif ya. Kalo hari kerja biasanya gak sampe 1 jam. Aku sendiri pernah kurang dari setengah jam ngurus STNKnya. Tapi itu kembali lagi ke jumlah pengurus STNKnya. Sabtu kemarin sih, sekitar 1 jam 10 menit waktu yang dibutuhin untuk ngurus STNK nya.
Oche deh. Selamat mencoba. Mudah2an dengan semakin banyak yang mengerti, jadi membasmi upaya-upaya percaloan oleh beberapa oknum yang ingin memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Hidup Indonesia