05/02/2008 10:13:00 WIB
Oleh Arinto Tri Wibowo
Saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) mengindikasikan rebound. Selain karena masih undervalued, kenaikan harga BNII juga terimbas sentimen positif rencana merger dengan PT Bank Danamon Tbk (BDMN).
“Apalagi, outlook suku bunga global pada 2008 cenderung menurun,” kata pengamat dan praktisi pasar modal David Cornelis kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (4/2).
Pada perdagangan kemarin, BNII menguat Rp 20 (6,66%) ke level Rp 320. Volume transaksi cukup signifikan, mencapai 1.139.332 lot senilai Rp 178,29 miliar dengan frekuensi 1.048 kali.
BNII ditransaksikan pada level terendah Rp 300 dan tertinggi Rp 320. Sejak awal tahun ini, BNII bergerak di kisaran Rp 260 hingga Rp 345.
Menurut dia, outlook suku bunga global yang cenderung menurun diperkirakan dapat berdampak positif bagi sektor-sektor yang terkait suku bunga. Sektor tersebut di antaranya perbankan, properti, dan otomotif. “Rencana merger BII dengan Bank Danamon juga memberikan sentimen positif bagi BNII,” tegas dia.
Dalam pandangan, BNII termasuk saham perbankan yang masih undervalued. “Secara keseluruhan, saham-saham di sektor ini juga berada di level yang undervalued,” lanjut dia.
Valuasi BNII, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Panin Tbk (PNBN) berdasarkan price to book value (PBV) lebih murah dibanding rata-rata PBV saham perbankan berkapitalisasi pasar besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Danamon Tbk (BDMN), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
David menjelaskan, meskipun Bank Indonesia (BI) diperkirakan tidak menurunkan suku bunga acuan (BI rate) pada rapat dewan gubernur Rabu (6/2), outlook suku bunga global yang menurun dapat menjadi sentimen positif bagi BNII.
Apalagi, selisih suku bunga (interest rate differential) antara BI rate dan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 5%. “Jadi, ada potensi untuk menurunkan suku bunga, baik di Indonesia maupun AS tahun ini,” tegas dia. Bank sentral AS (The Fed), lanjut David, kemungkinan akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan Maret 2008.
Kondisi tersebut, jelas dia, akan berpengaruh positif bagi pergerakan saham-saham perbankan termasuk BNII. “BNII adalah salah satu saham yang masih murah dilihat dari nominal maupun value sahamnya,” tegas David. Apalagi, performa saham-saham perbankan akan mulai atraktif di pasar pada kuartal II-III dan berlanjut hingga semester II tahun ini.
Namun, saat ini, saham-saham perbankan cenderung konsolidasi, karena peluang penguatan saham sektor agribisnis dan pertambangan masih cukup besar seiring kenaikan harga komoditas. “Kalaupun dalam posisi downtrend, saham perbankan sifatnya adalah defensive stock, yang menahan kejatuhan indeks lebih lanjut,” tegas dia.
Indikasi Naik
Sementara itu, secara teknis, BNII telah menembus triple moving average, jangka pendek, menengah, maupun panjang. “BNII telah keluar dari zona konsolidasi dan RSI (relative strength index) masih di posisi netral, jauh dari overbought,” tambah dia.
Menurut dia, BNII mengindikasikan kenaikan jika mampu menembus resistance di level Rp 340. “Target price BNII di posisi Rp 380,” tegas dia.
Analis PT Kresna Securities Tbk Gifar Indra Sakti mengatakan, secara teknis BNII rebound. Sinyal rebound terindikasi dari indikator stochastic oscillator dan moving average convergence divergence (MACD). “Kedua indikator ini menunjukkan sinyal naik,” lanjut dia.
Dia menjelaskan, moving average (MA) jangka pendek akan membentuk pola golden cross. Selain itu, BNII sudah berada di area support untuk trenkenaikannya. “Potensi penguatan saham ini masih terbuka, apalagi BNII didukung volume yang cukup besar,” tegas dia. Dalam jangka pendek, target pergerakan BNII di level Rp 335.
Tahun ini, BII menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 25% atau sekitar Rp 7,5-9 triliun. Target tersebut didasarkan pada semakin membaiknya iklim perbankan di Indonesia.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2007, kredit BII meningkat 16%. Secara bruto, kredit perseroan meningkat dari Rp 26,12 triliun menjadi Rp 30,47 triliun. Total aset mencapai Rp 53,18 triliun dari posisi sebelumnya Rp 50,13 triliun. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 22,13%.
Rekomendasi
David merekomendasikan buy on weakness BNII untuk jangka pendek hingga menengah-panjang. Sementara itu, Gifar merekomendasikan buy BNII. Support BNII di level Rp 305 dengan target untuk jangka menengah Rp 350. “Untuk jangka panjang, target harga di level Rp 370, dengan support Rp 300,” ujar dia.
David merekomendasikan buy on weakness BNII untuk jangka pendek hingga menengah-panjang. Sementara itu, Gifar merekomendasikan buy BNII. Support BNII di level Rp 305 dengan target untuk jangka menengah Rp 350. “Untuk jangka panjang, target harga di level Rp 370, dengan support Rp 300,” ujar dia.
Tips BNII
Tren
Jangka pendek: indikasi rebound
Jangka panjang: menguat
Fundamental
September 2007, kredit Rp 30,47 triliun
PER: 26,25 kali, PBV: 2,82 kali
Teknis
RSI: netral
Stochastic: sinyal naik
MACD: indikasi naik
Rekomendasi
David Cornelis
Jangka pendek-panjang: buy on weakness
Target harga Rp 380
Gifar Indra Sakti
Jangka pendek-panjang: buy
Support: Rp 305, resistance: Rp 350 (jangka menengah)
Support: Rp 300, resistance: Rp 370 (jangka panjang)